Kamis, 11 Februari 2016

Keajaiban Sebuah Cita-cita

Suatu hari di sebuah kelas berkumpul sekitar 30 siswa Taman Kanak-kanak. Mereka tampak lucu-lucu dan manis. Tangan mereka dilipat di atas meja dengan wajah senyum ceria pertanda telah siap menerima arahan dari sang guru.

Sang guru menyampaikan tema "Cita-citaku" kepada para murid. Setelah pembukaan dan lain sebagainya, dibukalah pertanyaan oleh sang guru.

"Anak-anak, tadi sudah ibu sampaikan macam-macam profesi. Sekarang ibu mau tanya cita-cita kalian. Nanti saat kalian sudah besar mau jadi apa? Ayo acungkan tangan!"

Anak-anak berebut mengacungkan tangan. "Saya bu", "Saya bu", "Saya bu".
Anak-anak tanpa pikir panjang langsung mengucapkan cita-citanya setelah dipilih oleh sang guru.

"Iya silakan Andita", ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Sambil malu-malu Andita mengucapkan cita-citanya, "Aku mau jadi bidan kaya ibu aku. Biar aku bisa bantu orang-orang"

"Iya bagus. Tepuk tangan buat Andita! Ayo siapa lagi?"
Anak-anak berebut mengacungkan tangan. "Saya bu", "Saya bu", "Saya bu".

"Iya silakan Parmin", ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Parmin mengucapkan cita-citanya dengan percaya diri, "Aku pingin jadi polisi biar bisa tangkap penjahat."

"Iya bagus. Tepuk tangan buat Parmin! Ayo siapa lagi?"
Anak-anak berebut mengacungkan tangan. "Saya bu", "Saya bu", "Saya bu".

"Iya silakan Mimar", ibu guru sambil mengarahkan tangannya mempersilakan.
Mimar mengucapkan cita-citanya dengan penuh semangat, "Aku kalo gede mau jadi presiden aja bu. Aku mau sekolahin yang ga punya uang kaya aku."

"Huu...., mana mungkin, gak mungkin, ngimpi" Anak-anak menyoraki.

"Tenang-tenang! Terimakasih Mimar. Cita-cita yang bagus."


*******************

Suatu hari di sebuah Sekolah Dasar

Pak guru datang menenteng buku paket. Pak guru memulai pelajaran Ilmu Sosial. Pak guru menyampaikan beberapa nama pekerjaan yang ada di lingkungannya.

"Anak-anak, kalian sudah mengenal pekerjaan di sekitar kita. Kalian kalau sudah besar mau jadi apa?"

Tidak ada yang menjawab...

"Baik, bapak mau pergi sebentar. Mulai sekarang coba pikirkan cita-cita kalian kalau sudah besar mau jadi apa." Pak guru meninggalkan kelas selama beberapa menit.

Anak-anak tampak sibuk memikirkan cita-cita mereka. Ada satu anak yang tampak bingung yang akhirnya memutuskan cita-citanya juga. "Ah udahlah aku mau jadi apa aja, terserah aku. Aku mau jadi pembalap aja ah."

Pak guru datang dan mengucapkan salam. Kemudian dipersilakan mulai dari siswa paling kanan dari depan.

"Silakan Eman." Pak guru mempersilakan

"Saya mau jadi pilot pak".

"Silakan Unang." Pak guru mempersilakan

"Saya mau jadi pedagang pak"

"Silakan Santi." Pak guru mempersilakan

"Kalo saya mau jadi suster pak."

"Suster ngesot kali." Ada yang nyeletuk. Semua tertawa

"Udah-udah, ayo lanju lagi" Kata pak guru

"Silakan Andita." Pak guru mempersilakan

"Aku mau jadi bidan pak"

"Oke. Silakan Mimar." Pak guru mempersilakan

"Aku..aku..aku mau jadi pembalap pak."

Ada anak yang protes... "Apa? Pembalap? naek sepeda aja gak bisa, mau jadi pembalap"

"Udah, gak apa-apa. Ayo lanjutkan."

**********************************

Suatu hari di sebuah Sekolah Menengah Pertama

Di pagi hari kepala sekolah masuk ke kelas menggantikan guru yang sakit. Kepala sekolah memulai memberikan nasehat.

"Dulu bapak pengen sekali menjadi guru agama. Bapak belajar ke pesantren. Terus bapak masuk jurusan Pendidikan Agama Islam. Alhamdulillah bapak sudah bisa jadi guru PAI. Sekarang bapak juga menjadi kepala sekolah. Sekarang bapak ingin tahu cita-cita kalian."

Semua siswa mempersiapkan jawaban. Satu persatu ditunjuk.

"Iya, kamu. Nama kamu siapa?" Kepala sekolah bertanya.

"Nama saya Andita pak"

"Cita-citamu?" Tanya kepala sekolah

Andita menjawab, "Saya mau jadi bidan pak."

"Oke. Sekarang kamu" Kepala sekolah menunjuk

"Nama saya Mimar mau jadi Guru Agama pak."

"Oke, bagus. Nanti belajar ngaji ya di rumah"

***************************************

Suatu hari di sebuah Sekolah Menengah Atas
Terjadi diskusi antar teman di sebuah taman sekolah. Parmin yang sudah kelas 3 SMA juga teman-temannya, Mimar, Andita, dan Santi memulai perbincangan.

"Teman-teman, saya udah ikutan tes jadi polri. Sekarang lagi nunggu pangilan lagi. Doain ya, semoga bisa lolos." Kata Parmin.

"Saya juga udah daftar kebidanan. Alhamdulillah ketrima tanpa tes." Kata Andita.

Disambung oleh Santi, "Saya juga baru dapat surat dari universitas kedokteran. Saya ditrima di STIKES."

"Kalau saya sudah diterima di jurusan manajemen. Saya mau jadi pebisnis." Kata Mimar.




***************************************

Suatu hari di sebuah universitas/ perguruan tinggi
Parmin, Mimar, Andita, dan Santi bertemu lagi. Mereka mengadakan reuni.

"Sudah lama ya tidak terasa baru bisa kumpul lagi. Ngomong-ngomong, apa rencana kalian nanti setelah beres kuliah? Kalau saya mau kerja di rumah sakit ternama di dekat rumah saja. Kebetulan ada bibi saya sudah bekerja di sana sejak lama." Santi memulai pembicaraan.

"Wah, peluang besar tuh." Kata Mimar

"Peluang apaan?" Andita penasaran.

Mimar menjelaskan, "Kan ada bibinya di sana. Santi tinggal minta bantuan bibinya saja kalau mau diterima."

"Tapi kan tetep harus diseleksi." Timpal Santi.

"Iya juga sih." Mimar garuk-garuk kepala.

"Kamu gimana Andita?" Santi bertanya.

"Kalau saya, mau magang dulu bareng dengan Ibu saya. Sekalian belajar gitu." Jawab Andita

Parmin pun mengambil bagian, "Saya kemarin dapat pengumuman, saya akan dikirim ke luar pulau selama beberapa bulan untuk menjalankan tugas pertama."

"Wah hebat kamu Min." Santi kagum
"Iya...iya..hebat" Semua mengangguk-angguk penasaran

"Kalau kamu Mar?" Parmin meminta Mimar berbicara.

"Saya lagi ngerintis kursusan. Sekarang saya lagi butuh orang buat jadi pengajar."

"Cita-citamu dulu pengen jadi guru kecapai sekarang. Pengen jadi pengusaha juga kecapai. Tingal jadi pembalapnya belum." Kata Andita.

"Gak mau ah, ada pak polisi di sini. Takut ditangkep nanti." Sambil senyum Mimar menjawab.

"Kan jadi presiden juga. Turunin aja pangkatnya kalau berani nangkep" Santi menambahkan.

"Ampun..ampun..ampun..hahaha." Parmin menambahkan keceriaan.

Semuanya tampak bahagia bisa mewujudkan cita-cita mereka yang dahulu dianggap mimpi yang kosong, dihina, dan dianggap tidak mungkin. Tapi begitulah seharusnya, impian atau cita-cita mesti tetap dijaga karena ia tidak akan tercapai hari ini melainkan akan tercapai di masa yang akan datang.

Puisi tentang cita-cita

Menggapai Mimpi
Tak jera ku melangkah…
Merajut semua mimpi yg semakin lemah
Jalan terjal yang ku tempuh selama ini


Panas terik mentari tak kunjung usai

Namun satu yang ku genggam
Untuk menggapai semua mimpi itu…
Akan ku kejar mimpi itu setinggi langit


Serasa kelu lidah ini…

Ya Allah wahai tuhan ku….
Aku mohon kabul kan.lah do’a ku untuk mengejar impian itu hingga aku sukses
Hanya ada mimpi esok hari…


Yang terkadang di hari nanti

Walau apa yang ada di depan…
Ku yakin bumi tak.kan terdiam…
Tuk sambut langkah kaki ku…


Tuk menggapai Cita-Cita ku

Sejuta langkah tuk meraih nya
Seluas lautan keringat ku
Tak kan pernah ku pedulikan


Ku akan raih semua impian

Bumi ini selalu berputar…
Ilmu datang menghampiri ku
Menyampai.kan tentang masa depan ku


Yang kan kuraih cita-citaku dengan sekuat tenaga ku

Setiap hari ku buka buku
Kan ku serap ilmu itu dari buku
Tanpa sadar ku dapat semua semangat baru ku


Untuk meraih Cita-Cita ku

Wahai mimpi,, Tunggulah aku disana…
Kan ku jemput engkau serta hingga nyata
Yang hanya ku rasa


Aku yakin pasti insya allah mimpi itu akan menjadi kenyataan

10 cara untuk berbakti kepada orang tua

Jaman sudah makin edan, kultur ketimuran semakin terkikis dan pendidikan agama sudah banyak dikesampingkan. Sekarang banyak ditemui anak yang hilang sopan santun hingga kurang ajar terhadap orang tuanya, tidak mempunyai sikap berbakti bahkan menelantarkan orang tua yang sudah lanjut usia. Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan berbagai pengorbanan. Pengorbanan itu tak hanya dalam hal tenaga, waktu dan materi, bahkan demi anak nyawa pun rela dikorbankan.

Berikut ini setidaknya ada 10 cara yang cukup sederhana yang dapat kita lakukan untuk berbakti atau memuliakan orang tua, termasuk kepada orang tua yang telah tiada.

1. Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orang Tua
Jagalah setiap tutur kata kita sebagai anak agar senantiasa lemah lembut tatkala berbicara kepada orang tua. Jauhi ucapan-ucapan bernada tinggi, apalagi kata-kata kasar. Kepada pimpinan atau bos kita saja kita bisa berusaha santun (meskipun terkadang hanya basa-basi), seharusnya kita pun bisa bertutur lemah lembut kepada orang tua. Kadang kita temui anak yang berkata kepada orang tuanya dengan cara berteriak-teriak.
2. Membantu Berbagai Pekerjaan Rumah
Banyak dari kita yang tidak menyadari sebenarnya ada berbagai rutinitas orang tua, terutamanya Ibu yang sebenarnya cukup melelahkan, namun atas dasar tanggung jawab sebagai orang tua, perkara-perkara rutinitas dalam keseharian itu tidak menjadikan mereka berkeluh kesah. Maka tidak ada salahnya bagi kita untuk membantu meringankan beban orang tua tersebut, seperti halnya membantu mencuci piring, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan rumah dan semisalnya. Meskipun mungkin kita tidak setiap hari membantu dalam meringankan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi niscaya itu akan membuat orang tua merasa bahagia.

3. Ringan Tangan Menjalankan Perintah Orang Tua
Jika orang tua memerintahkan suatu hal kepada kita, yang mana hal tersebut dapat kita jalankan, maka janganlah menolak atau menunda-nunda jika memang kita tidak memiliki udzur dalam perkara tersebut. Orang tua ‘melayani’ kita sejak kita lahir, sejak masih bayi hingga dewasa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Sungguh tidak pantas ketika tiba saatnya orang tua kita memerintahkan kita untuk melakukan suatu perkara yang sanggup kita kerjakan, namun kita mencari-cari alasan untuk mengelak dari perintah tersebut.

4. Senantiasa Bersikap Sopan dan Santun
Tidak sekedar ucapan yang lemah lembut saja yang harus kita jaga, namun juga disertai dengan sikap sopan dan santun terhadap orang tua. Semisal kita mengucapkan salam ketika pulang, tidak sekedar seperti orang masuk pasar. Terlebih lagi kita harus menjauhi sikap kurang ajar kepada orang tua.

5. Bersikap Sabar dan Menahan Marah
Sering kali kita mendengar ucapan dari sekian banyak orang terkait orang tua yang semakin bertambah usia mereka, maka akan semakin ‘rewel’ sikap mereka, seperti anak kecil lagi. Terkadang dipicu oleh kondisi kesehatan yang sudah tidak prima lagi, terkadang orang tua semakin usianya renta mereka jadi lebih sensitif dan mudah marah. Dalam keadaan seperti ini kita harus berusaha untuk menahan diri dengan bersabar. Bahwasanya surga itu adalah tempat yang salah satu ciri-ciri penghuninya adalah mereka yang dapat menahan marah.Bayangkan bagaimana kesabaran orang tua mengasuh kita sejak kecil hingga dewasa, sabar menghadapi kebandelan kita, sabar menasehati kita, dll.

6. Memberi Hadiah Kepada Orang Tua
Memberi hadiah tidak hanya khusus dituntunkan kepada pasangan suami-istri ataupun dari orang tua kepada anak. Namun anak pun dapat memberikan suatu hadiah kepada orang tuanya. Hadiah tidak haruslah yang mahal, namun yang penting dapat menyenangkan orang tua kita. Semisal untuk Ibu kita beri hadiah berupa jilbab yg syar’i, atau kepada bapak kita hadiahkan sebuah sarung yang bagus, semisal tatkala Alloh ‘Azza wa Jalla memberi kita kemudahan dalam hal rezeki yang berlebih. Betapa orang tua akan merasa dimuliakan anak.

7. Tidak Menyia-nyiakan Kerja Keras Orang Tua
Di jaman sekarang ini, banyak kita temui anak yang tidak bisa menghargai perjuangan dan kerja keras orang tuanya dalam menafkahi mereka, menyekolahkan mereka, dan hal yang semisalnya yang notabene perjuangan tersebut adalah untuk membuat kita menjadi lebih baik. Semisal bentuk tidak menghargai perjuangan dan kerja keras orang tua adalah: bolos sekolah, menghambur-hamburkan uang pemberian orang tua, malas belajar, dan sikap negatif lainnya yang dilakukan seorang anak.

8. Merawat Mereka Saat Usia Semakin Renta
Saat kita masih kecil hingga kita dewasa orang tua merawat kita dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Saat kita sakit sejak kita bayi hingga dewasa, orang tua menjaga kita siang dan malam. Ingatlah bagaimana Ibu kita memandikan kita, menyuapi kita dengan telaten, memakaikan baju setiap hari, mengajari kita hal-hal yang baik, mengganti popok kita, dll. Sekarang banyak kita temui, anak-anak yang menaruh orang tuanya di panti jompo dikarenakan mereka lebih memilih menghabiskan semua waktu untuk mengejar nafsu duniawi. Sungguh kebanyakan orang tua akan nelangsa dengan perlakuan seperti ini.

9. Doa Anak Yang Shalih Untuk Orang Tua Yang Telah Meninggal
Bagi Kaum Muslimin yang mana kedua orang tua atau salah satunya telah tiada, bahwasanya doa dari anak yang sholeh begitu luar biasa memberi manfaat bagi orang tua yang telah meninggal. Telah banyak hadits yang menerangkan tentang bagaimana kebaikan yang akan didapatkan orang tua di kehidupan setelah mati tatkala memiliki anak-anak yang sholeh yang mau mendoakan mereka. Dan shaleh ataupun shalehah itu harus diperjuangkan dengan cara taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sebaliknya anak-anak yang tidak mau taat kepada perintah Alloh dan sebaliknya gemar berbuat dosa akibat meninggalkan shalat, berbuat maksiat, tidak mau belajar ilmu agama dan hal-hal yg dibenci Alloh serta RasulNya.. maka sang anak hanya akan memberikan beban berat yang harus dipertanggung jawabkan orang tuanya di yaumul akhirat.

10. Menjaga Silahturahmi Dengan Kerabat ataupun Teman Orang Tua
Termasuk juga dalam ini adalah menyambung hubungan dengan teman atau sahabat dari orang tua kita yang telah tiada. Dalam syariat Islam bahwasanya dituntunkan untuk kita senantiasa menyambung tali silahturahmi dengan keluarga-keluarga dari orang tua kita yang telah tiada sebagai bentuk bakti kita kepada orang tua. Kita usahakan meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah paman, tante dan semisalnya.

Hadits Shahih :
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia tidak masuk syurga.”
[Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]
Penjelasan ringkas dari hadits di atas: Bahwasanya kedua orang tua itu adalah ‘ladang pahala’ untuk kita menggapai surga Alloh ‘Azza wa Jalla. Terdapat kemuliaan tatkala seorang anak ikhlas dan sadar dalam memuliakan serta berbakti kepada kedua orang tuanya dalam perkara-perkara yang ma’ruf (perkara yang baik dan tidak melanggar syariat). Dan sungguh celaka dan merugi bagi seorang anak yang tatkala kedua orang tua atau salah satunya masih hidup lantas ia enggan merawatnya, enggan berbakti kepada mereka terlebih tatkala orang tua sudah renta, bahkan sampai membiarkan orang tua terlantar tanpa perhatian dan kasih sayang dari anak-anaknya. Demi mengejar karir, demi membahagiakan istri atau suami, sering kali akhirnya orang tua dilupakan dan dikesampingkan. Tanpa disadari mereka mendekatkan diri dengan api neraka dan azab-Nya.